Posisi menentukan prestasi Dan Prestasi menetukan Posisi

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 25 Juni 2012

STRATEGI PELAKSANAAN (SP) RESIKO PERILAKU KEKERASAN

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN

Hari/tanggal                           : 7 Februari 2012
Nama klien                             : Tn. R
No. MR                                  :
Dx / SP ke / Pertemuan ke    : I
Nama perawat pelaksana     : Perawat Cicilia
Resiko perilaku kekerasan

A.    PROSES KEPERAWATAN
1.      Kondisi Klien :
Data Subjektif :
·         Klien mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan
·         Klien mengatakan merasa orang lain mengancam
·         Klien mengatakan orang lain jahat
Data objektif :
·         Klien tampak tegang saat bercerita
·         Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan marahnya
·         Mata melotot, pandangan tajam
·         Mengancam secara verbal dan fisik
·         Nada suara tinggi
·         Tangan mengepal
·         Berteriak/menjerit
·         Memukul jika marah
2.      Diagnosa         : Risiko tinggi perilaku kekerasan
3.      Tujuan              :
a.       Tujuan umum
Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan baik secara fisik, sosial atau verbal, spiritual, dan terapi psikoformatika.
b.      Tujuan khusus
·         Klien dapat membina hubungan saling percaya
·         Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan
·         Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
·         Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dapat dilakukan
·         Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
·         Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan
·         Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan
·         Klien dapat memasukkan latihan ke dalam jadwal kegiatan harian.
4.      Tindakan :
·         Bina hubungan saling percaya
·         Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan marahnya
·         Bantu klien mengungkapkan penyebab perilaku kekerasan
·         Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya
·         Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini
·         Diskusikan dengan klien akibat negative (kerugian) cara yang dilakukan pada diri sendiri, orang lain/keluarga, dan lingkungan
·         Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan secara fisik : teknik napas dalam
·          Anjurkan klien untuk memasukkan kegiatan didalam jadwal kegiatan harian

B.     STRATEGI PELAKSANAAN
1.      Orientasi :
·         Salam Teraupetik
Selamat pagi Mas. Perkenalkan nama saya Agus Purnomo, panggil saja Agus.
Saya
adalah mahasiswa STIK Muhammadiyah Pontianak. Nama Mas siapa dan suka dipanggil apa? Baiklah mulai sekarang saya akan pangil Mas Recki saja, ya”

·         Evaluasi/validasi
 “kalau boleh tahu, sudah berapa lama Mas Recki di sini ? Apakah Mas Recki masih ingat siapa yang membawa kesini ? bagaimana perasaan Mas saat ini? Saya lihat Mas sering tampak marah dan kesal, sekarang Mas masih merasa kesal atau marah ?

·         Kontrak
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang hal-hal yang membuat Mas Recki marah dan bagaimana cara mengontrolnya? Ok. Mas?”
“ Tidak lama kok, 15 menit saja”.
“Mas senangnya kita berbicaranya dimana?. Dimana saja boleh kok, asal Mas merasa nyaman. Baiklah, berarti kita berbicara disini saja ya, Mas”

2.      Kerja :
“Nah, sekarang coba Mas ceritakan Apa yang membuat Mas Recki merasa marah? ”
Apakah sebelumnya bapak pernah marah? Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang?”
Lalu saat Mas sedang marah apa yang akan Mas rasakan? Apakah Mas merasa sangat kesal, dada Mas  berdebar-debar lebih kencang, mata melotot, rahang terkatup rapat dan ingin mengamuk?
“Setelah itu apa yang Mas Recki lakukan? ”
“Apakah dengnan cara itu marah/kesal Mas dapat terselesaikan? ” Ya tentu tidak, apa kerugian yang Mas Recki alami?”
Menurut Mas adakah cara lain yang lebih baik? Maukah Mas belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?”
Jadi, ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, Mas. Salah satunya adalah dengan cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik disalurkan rasa marah.”
Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu? Namanya teknik napas dalam
”Begini Mas, kalau tanda-tanda marah tadi sudah Mas rasakan, maka Mas berdiri atau duduk dengan rileks, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahan –lahan melalui mulut
Ayo Mas coba lakukan, tarik dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali.
Bagus sekali, Mas  sudah bisa melakukannya”
“ Nah..Mas Recki tadi telah melakukan latiahan teknik relaksasi napas dalam, sebaiknya latihan ini Mas lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-waktu rasa marah itu muncul Mas sudah terbiasa melakukannya”





3.      Terminasi :
·         Evaluasi
Evaluasi subjektif:
“Bagaiman perasaan Mas setelah kita berbincang-bincang dan melakukan latihan teknik relaksasi napas dalam tadi? Ya...betul, dan kelihatannya Mas terlihat sudah lebih rileks”.

Evaluasi objektif
Coba Mas sebutkan lagi apa yang membuat Mas marah, lalu apa yang Mas rasakan saat itu dan apa yang akan Mas lakukan. Kemudian apa akibatnya...”
“Wah...bagus, Mas masih ingat semua...”

·         Tindak lanjut
Bagaimana kalau latihan ini kita masukkan dalam jadwal kegiatan sehari-hari Mas?
Kapan waktu yang Mas inginkan untuk melakukan latihan ini? Bagaimana kalau setiap jam 11pagi?

·         Kontrak yang akan datang
“ Nah, Mas. Cara yang kita praktikkan tadi baru salah satu dari teknik saja. Masih ada cara yang bisa digunakan untuk mengatasi marah Mas. Cara yang kedua yaitu dengan teknik memukul bantal atau kasur.
Bagaimana kalau kita latihan cara yang kedua ini besok, Mas maunya kita bertemu besok jam berapa?”Kita latihannya dimana, Mas? Disini saja lagi , Mas” “ok, Mas. Kalau begitu saya pamit dulu ya, Mas.... Assalamualaikum”

Askep dengan Risiko PERILAKU KEKERASAN

ASUHAN  KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN

Perilaku kekerasan merupakan salah satu respons terhadap stresor yang dihadapi oleh seseorang. Respons ini dapat menimbulkan kerugian baik kepada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Melihat dampak dari kerugian yang ditimbulkan, maka penanganan pasien dengan perilaku kekerasan perlu dilakukan secara cepat dan tepat oleh tenaga-tenaga yang profesional.
A.  TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari modul ini saudara diharapkan mampu :
  1. Mengkaji  data perilaku kekerasan
  2. Menetapkan diagnosa keperawatan berdasarkan data yang dikaji
  3. Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien
  4. Melakukan tindakan keperawatan kepada keluarga
  5. Mengevaluasi kemampuan pasien dan keluarga dalam menangani masalah perilaku kekerasan
  6. Mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pasien dengan perilaku kekerasan
B.  PENGKAJIAN
1.   Pengertian
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis. Berdasarkan definisi ini maka perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu saat sedang berlangsung perilaku kekerasan atau riwayat perilaku kekerasan.
2.   Tanda dan Gejala
Data perilaku kekerasan dapat diperoleh melalui observasi atau wawancara tentang perilaku berikut ini:
  1. Muka merah dan tegang
  2. Pandangan tajam
  3. Mengatupkan rahang dengan kuat
  4. Mengepalkan tangan
  5. Jalan mondar-mandir
  6. Bicara kasar
  7. Suara tinggi, menjerit atau berteriak
  8. Mengancam secara verbal atau fisik
  9. Melempar atau memukul benda/orang lain
  10. Merusak barang atau benda
  11. Tidak mempunyai kemampuan mencegah/mengontrol perilaku kekerasan.
Data ini sesuai dengan format pengkajian untuk masalah perilaku kekerasan.

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan ditetapkan sesuai dengan data yang didapat, dan saat ini tidak melakukan perilaku kekerasan tetapi pernah melakukan perilaku kekerasan dan belum mempunyai kemampuan mencegah/mengontrol perilaku kekerasan tersebut.


RISIKO PERILAKU KEKERASAN
C.  TINDAKAN KEPERAWATAN
1.  Tindakan keperawatan untuk pasien
a.   Tujuan
1)      Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
2)      Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
3)      Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya
4)      Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukannya
5)      Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya
6)      Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik, spiritual, sosial, dan dengan terapi psikofarmaka.
  1. Tindakan
1) Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya adalah:
a) Mengucapkan salam terapeutik
b) Berjabat tangan
c) Menjelaskan tujuan interaksi
d) Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien
2)   Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan  yang lalu
3)   Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan
a)  Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik
b)  Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara
psikologis
c)  Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial
d)  Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual
e)  Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara intelektual
4)   Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada saat  marah   secara:
a) verbal
b) terhadap orang lain
c) terhadap diri sendiri
d) terhadap lingkungan
5)      Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya
6)      Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan secara:
a)  Fisik: pukul kasur dan batal, tarik nafas dalam
b)  Obat
c)  Social/verbal: menyatakan secara asertif rasa marahnya
d)     Spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien
7)      Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik:
a)      Latihan nafas dalam dan pukul kasur – bantal
b)      Susun jadwal latihan dalam dan pukul kasur – bantal
8)      Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal
a)      Latih mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik
b)      Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal.
9)      Latih mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual:
a)      Latih mengontrol marah secara spiritual: sholat, berdoa
b)      Buat jadwal latihan sholat, berdoa
10)  Latih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat:
a)      Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat
b)      Susun jadwal minum obat secara teratur
11)  Ikut sertakan pasien dalam Terapi Aktivitas Kelompok  Stimulasi Persepsi mengontrol Perilaku Kekerasan

Jumat, 22 Juni 2012

KURANG JELAS..


Ada sepasang suami istri yang hidup harmonis.. Akan tetapi, sang suami akhir-akhir ini merasa mempunyai problem terhadap istrinya, dan mengira mungkin Istrinya akan menjadi tuli.. Karena satiap kali dipanggil, Istrinya tidak menyahut.. Lalu, Sang Suami berkonsultasi dengan temannya yang kebetulan Seorang Dokter..
Kata temannya itu.. Coba nanti waktu kamu pulang, sekitar jarak lima meter dari Istrimu, kamu panggil dia..!!
" lalu suami itu bertanya.. " Bagaimana kalau Istriku tidak menyahut..?? Apakah dia tuli..?? "
" Oohh.. Belum, kata temannya, " kalau istrimu belum menyahut dalam jarak lima meter, kamu lebih mendekat lagi dalam jarak tiga meter..."
Lalu kata Sang Suami lagi.. "Bagaimana kalau belum menyahut lagi..?? "
Temannya berkata.. " Okay.. Kamu mendekat lagi menjadi satu meter saja.. Nanti kalau dia tidak menyahut juga, berarti Istrimu kemungkinan besar tuli.."
Akhirnya, Si Suami pulang ke rumah untuk mempraktekan hal tersebut..
Pas sampai di rumah, dia melihat istrinya sedang asik memasak di dapur.. Lalu sekitar jarak lima meter dari Istrinya, dia berseru..
" Hai sayang, Sedang masak apa kau..?? "
Tetapi Isrtinya tetap saja asik memasak.. Sang Suami mulai curiga, lalu dia mendekat ke jarak tiga meter.. dan serunya lagi..:
" Hai sayang, Sedang masak apa Kamu....?? "
Hmm.. Namun ternyata Istrinya tetap tidak menengok dan asik memasak... Akhirnya, sang suami benar-benar kesal.. Dia maju sampai jarak satu meter dari Istrinya dan dia berteriak..:
" HAI SAYANGKU SEDANG MASAK APA KAU....??? "
Tiba-tiba Istrinya berbalik dan melotot sambil berkata..:
" KAMU INI KENAPA SIH..?? SUDAH TIGA KALI AKU BILANG SEDANG MEMASAK PISANG GORENG...! KAU MASIH JUGA TANYA...!!! "

Kamis, 21 Juni 2012

STRATEGI PENDAHULUAN (SP) HARGA DIRI RENDAH


DEFINISI
Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Pencapaian ideal diri atau cita – cita atau harapan langsung menghasilkan perasaan bahagia. (Budi Ana Keliat, 1998).

Aktualisasi diri
Pengungkapan pertanyaan atau kepuasan dari konsep diri positif.
Konsep diri positif
Dapat menerima kondisi dirinya sesuai dengan yang diharapkannya dan sesuai dengan kenyataan.
Harga diri rendah
Perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri merasa gagal mencapai keinginan.
Kerancunan identitas
Ketidakmampuan individu mengidentifikasi aspek psikologi pada masa dewasa, sifat kepribadian yang bertentangan perasaan hampa dan lain – lain.
Dipersonalisasi
Merasa asing terhadap diri sendiri, kehilangan identitas misalnya malu dan sedih karena orang lain.
Kepribadian yang sehat mempunyai konsep diri sebagai berikut :
Konsep diri posistif
Gambaran diri yang tepat dan positif
Ideal diri yang realistis
Harga diri yang tinggi
Penampilan diri yang memuaskan
Identitas yang jelas
FAKTOR PENYEBAB
Teori penyebab
Situasional
Yang terjadi trauma secara tiba – tiba misalnya pasca operasi, kecelakaan cerai, putus sekolah, Phk, perasaan malu karena terjadi (korban perkosaan, dipenjara, dituduh KKN).
HDR pada pasien yang dirawat disebabkan oleh :
Privacy yang kurang diperhatikan, misal pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak spontan (mencukur pubis pemasangan kateter).
Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tecapai karena dirawat atau sakit atau penyakitnya.
Kelakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misal berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan berbagai tindakan tanpa pemeriksaan.
Kronik
Perasaan negatif terhadap diri sudah berlangsung lama yaitu sebelum sakit atau dirawat. Klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif, kejadian sakit yang dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya.
Menurut Ericson, masa balita adalah kemandirian yang ragu dan malu anak belajar mengendalikan diri dan kepercayaan diri, sebabnya bila banyak dikendalikan dari luar maka akan timbul bibit keraguan dan rasa malu yang berlebihan.
Faktor Predisposisi
Faktor yang mempengaruhi HDR adalah penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistic. Tergantung pada orang tua dan ideal diri yang tidak realistic. Misalnya ; orang tua tidak percaya pada anak, tekanan dari teman, dan kultur sosial yang berubah
Faktor Presipitasi
Ketegangan peran
Stress yang berhubungan dengan frustasi yang dialami dalam peran atau posisi
Konflik peran
Ketidaksesuaian peran dengan apa yang diinginkan
Peran yang tidak jelas
Kurangnya pengetahuan individu tentang peran
Peran yang berlebihan
Menampilkan seperangkat peran yang konpleks
Perkembangn transisi
Perubahan norma dengan nilai yang taksesuai dengan diri
Situasi transisi peran
Bertambah/ berkurangnya orang penting dalam kehidupan individu
Transisi peran sehat-sakit
Kehilangan bagian tubuh, prubahan ukuran, fungsi, penampilan, prosedur pengobatan dan perawatan.
Tanda dan Gejala
Perasaan malu pada diri sendiri akibat penyakit dan akibat terhadap tindakan penyakit. Misalnya malu dan sedih karena rambut menjadi rontok (botak) karena pengobatan akibat penyakit kronis seperti kanker.
Rasa bersalah terhadap diri sendiri misalnya ini terjadi jika saya tidak ke RS menyalahkan dan mengejek diri sendiri.
Merendahkan martabat misalnya, saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya memang bodoh dan tidak tahu apa – apa.
Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri, klien tak mau bertemu orang lain, lebih suka menyendiri.
Percaya diri kurang, klien sukar mengambil keputusan yang suram mungkin memilih alternatif tindakan.
Mencederai diri dan akibat HDR disertai dengan harapan yang suram mungin klien ingin mengakhiri kehidupan.
Menurut Struart & Sundden (1998) perilaku klien HDR ditunjukkan tanda – tanda sebagai berikut :
Produktivitas menurun.
Mengukur diri sendiri dan orang lain.
Destructif pada orang lain.
Gangguan dalam berhubungan.
Perasaan tidak mampu.
Rasa bersalah.
Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan.
Perasaan negatif terhadap tubuhnya sendiri.
Ketegangan peran yang dihadapi atau dirasakan.
Pandangan hidup yang pesimis.
Keluhan fisik.
Pandangan hidup yang bertentangan.
Penolakan terhadap kemampuan personal.
Destruktif terhadap diri sendiri.
Menolak diri secara sosial.
Penyalahgunaan obat.
Menarik diri dan realitas.
Khawatir.
Akibat harga diri rendah berkepanjangan (kronis).
Klien akan mengisolasi diri dari lingkungan dan akan menghindar dengan orang lain.
HDR kronis berlangsung lama tanpa adanya intervensi yang terapeutik dapat menyebabkan terjadinya kekacauan identitas dan akhirnya terjadi di personalisasi.
Kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrogasikan aspek – aspek.
Identitas masa kanak – kanak ke dalam kematangan aspek psikologi – psikososial kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.
Depersonalisasi adalah perasaan tidak realita dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan, serta tidak dapat meredakan dirinya dengan orang lain.

Mekanisme koping individu
tidak efektif.
Masalah Keperawatan
Gangguan konsep diri : HDR
DS : - Adanya ungkapan yang menegatifkan diri.
- Mengeluh tidak mampu dilakukan peran dan fungsi sebagaimana mestinya.
- Ungkapan mengkritik diri sendiri, mengejek dan menyalahgunakan diri sendiri.
DO : - Kontak mata kurang, sering menunduk.
- Mudah marah dan tersinggung.
- Menarik diri.
- Menghindar dari orang lain.
2. Perubahan penampilan peran
DS : - Ungkapan peranannya saat ini yang tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
DO : - Adanya keluhan fisik.
- Perubahan dalam tanggung jawab.
3. Kerusakan interaksi sosial sama dengan menarik diri.
DS : - Ungkapan yang terbatas pada ya atau tidak tahu.
DO : - Tidak adanya kontak mata, selalu menundukkan kepala.
- Berdiam diri di kamar, afek tumpul, menyendiri.
- Menolak diajak berbincang – bincang.
- Posisi tidur janin.
4. Keputusasaan
DS : - Mengungkapkan ketidakmampuan mengontrol dan mempengaruhi pikiran.
- Enggan mengekspresikan perasaan yang sebelumnya.
- Mengungkapkan keputusan.
- Mengatakan kata – kata pesimis.
- Menyatakan secara tidak ada cara untuk memproleh hubungan dengan orang lain.
DO : - Respon terhadap stimulasi terlambat / melambat.
- Kurang berenergi.
- Pasif tampak apatis.
- Lebih banyak tidur menarik diri.
- Marah.
Kerusakan komunikasi
DS : - Sukar dimengerti, bila klien tidak mau berkomunikasi.
- Mengungkapkan hal – hal yang tidak sesuai dengan non verbalnya.
DO :- Menolak berkomunikasi
- Berbicara dengan nada yang tidak jelas.
- Tampak mimik wajah tidak sesuai dengan verbal
Resiko tinggi intoleran aktivitas
DS : - Klien mengungkapkan menolak aktivitas
DO :- Pasif
- Tampak menyendiri / menghindar dari kegiatan yang ada orang lain.
- Tidak peduli dengan aktifitas hidup sehari – hari.
Resiko tinggi perubahan persepsi sensori : halusinasi
DS : - Klien mengatakan mendengar suara, melihat sesuatu, mengucap rasa, sesuatu, mencium bau yang nyata.
DO : - Klien berbicara, senyum – senyum, tertawa sendiri.
- Bersikap curiga dengan orang lain atau sekitar dan bermusuhan.
- Berbicara kacau, kadang – kadang tidak masuk akal.
- Tidak dapat membedakan hal – hal yang nyata dan tidak nyata.
Defisit perawatan diri
DS : - Klien mengatakan malas untuk beraktifitas mandi, makan ganti pakaian dll.
DO : - Pakaian kotor, penampilan tidak rapi.
- Rambut kusut, kotor, bau tidak sedap.
- Personal hygiene yang kurang.
- Makan tak mau / menolak.
- BAB / BAK tidak terkontrol.
Resiko perilaku pada diri sendiri, orang lain / lingkungan
DS : - Mengatakan mendengar suara yang negatif tentang orang lain, ancaman, ejekan.
DO : - Mudah tersinggung, jengkel, marah.
- Ekspresi wajah tegang.
- Memukul atau menyakiti orang lain.
Merusak lingkungan sekitar.
Diagnosa Keperawatan
Perubahan penampilan peran berhubungan dengan HDR.
HDR berhubungan dengan mekanisme koping individu tidak efektif.
HDR berhubungan dengan gangguan citra tubuh.
HDR berhubungan dengan ideal diri tidak realistis.
Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan HDR.
Keputusan berhubungan dengan hdr.
Kerusakan komunikasi berhubungan dengan HDR.
Resiko tinggi isolasi sosial berhubugan dengan HDR.
Intoleran aktivitas berhubungan dengan menarik diri.
Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleran aktifitas.
Resiko tinggi perubahan persepsi sensori halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
Resiko tinggi perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi.
Resiko tinggi mencederai diri sendiri orang lain akan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.

Rencana Keperawatan
Diagnosa : Perubahan penampilan peran berhubungan dengan HDR.
Tujuan umum : Klien dapat melanjutkan peran berhubungan dengan tanggung jawab.
Tujuan khusus :
Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dapat digunakan.
Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Klien dapat menerapkan (merencanakan) kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
Klien dapat meciptakan sistem pendukung yang ada.
Intervensi :
Bina hubungan saling percaya dengan cara selain terapoutik.
Bicara dengan jujur, singkat, jelas, mudah di mengerti.
Dengarkan pernyataan klien yang empati tentang halusinasi tanpa menentang atau menyetujui.
Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya tentang penyakit yang diderita.
Sediakan waktu untuk mendengarkan.
Katakan pada klien bahwa klien adalah orang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.
Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien dapat dimuat dan bagian tubuh mana yang masih berfungsi dengan baik. Kemampuan yang dimiliki oleh klien, aspek positif yang dialami oleh klien. Jika klien tidak mampu mengungkapkan maka dimulai dengan perawat memberikan rein forcement terhadap aspek positif klien.
Setiap bertemu klien tindakan memberi penilaian negatif, utamakan memberi pujian yang realistic.
Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit. Misalnya penampilan klien dalam “self care” latihan fisik dan ambulasi serta aspek – aspek.
Diskusikan dalam kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya setelah pulang sesuai dengan kondisi sakit pasien.
Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari, sesuai dengan kemampuan kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan sebagai bantuan total.
Tingkatkan kegiatan yang sesuai dengan kondisi klien.
Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang lebih dilakukan klien.
Berikan kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
Beri pujian atas kebersihan klien.
Diskusikan kemungkinan penatalaksanaan rumah.
6.1 Berikan pendidikan kesehatan pada klien tentang cara merawat klien dengan HDR.
6.2 Bantu dengan keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
6.3 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan dirumah.
Rasional
Membina hubungan perawat – klien setiap akan melakukan tindakan merupakan langkah awal yang penting sehingga klien mempercayai perawat sehingga berinteraksi dengan perawat. Sikap jujur bersahabat akan menimbulkan kepercayaan kepada klien sehingga memudahkan untuk berkomunikasi.
Mengetahui persepsi klien terhadap kondisinya.
Klien merasa dihargai karena ada orang yang mau mendengarkannya bicara.
Dengan memberikan rewards, maka harga diri klien akan meningkat sehingga timbul perasaan berharga dan meningkatkan percaya diri.
Menggali kemampuan positif klien kemudian ditonjolkan sehingga klien merasa hidupnya berarti. Dengan memberikan reinforemen klien akan menyadari bahwa dirinya mempunyai kelebihan seperti orang lain.
Penilaian negatif akan menambah klien merasa rendah diri / HDR dengan menunjukkan kemampuan klien / membuat klien beraktifitas akan menambah perasaan berguna bagi klien sehingga akan meningkatkan harga diri.
Dapat di ketahui kegiatan – kegiatan yang bisa dilakukan sendiri dan mulai dilatih aktivitas yang dibantu sehingga klien dapat melakukannya secara mandiri, memberikan contoh kegiatan yang di dapat dilakukan klien kelak takut melakukan aktivitas tersebut.
Membuat kesempatan pada klien untuk menunjukkan kemampuan dan memberikan pujiannya akan meningkatkan harga diri klien.
Pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan wawancara keluarga tentang cara merawat klien, keluarga merupakan faktor penting dalam penanggulangan masalah, keluarga juga merupakan lingkungan pertama sebelum ke masyarakat.
Hasil yang diharapkan.
Klien mengungkapkan perasaannya terhadap penyakit yang diderita.
Klien menyebutkan aspek positif dan kemampuan dirinya (fisik , internal, sistem pendukung).
Klien berperan serta dalam perawatan di derita.
Percaya diri klien meningkat dengan menerapkan keinginan atau tujuan yang realistis.
Strategi pelaksanaan
Masalah : Harga Diri Rendah
Pertemuan : Ke - 1 (pertama)
Proses Keperawatan
Kondisi Klien
Mengkritik diri sendiri, merasa tidak mampu, malu bertemu orang lain, melamun.
Diagnosa Keperawatan
Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan HDR.
Tujuan Khusus
Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Klien dapat mengidentifikasikan kemampuan & aspek positif yang dimiliki.
Tindakan Keperawatan
Bina hubungan saling percaya.
Diskusikan kemampuan & aspek positif yang dimiliki klien.
Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi nilai negatif.
Utamakan memberi nilai yang realitas.
Strategi Komunikasi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Orientasi
Salam terapeutik.
- Selamat pagi mas ?
 4 minggu.- Perkenalkan nama saya Jepi dari AKPER Ngudi Waluyo Ungaran, saya dinas disini
- Nama mas siapa ? mas suka dipanggil siapa ?
Evaluasi / validasi
- Bagaimana perasaan mas kali ini ?
- Apa yang menyebabkan mas masuk / dirawat di RSJ Magelang ini !
Kontrak
- Topik : Bagimana kalau kita bincang – bincang sebentar tentang hal – hal positif yang bisa mas lakukan sehari – hari ?
- Waktu : jam berapa kita akan berbincang – bincang ?gimana kalu waktunya 10 menit saja ?
- Tempat : mas mau bincang – bincang dimana ?
Kerja
Apa yang menyebabkan mas dari tadi kelihatan melamun dan terus menyendiri, memandang ke bawah terus ?
Kegiatan apa yang masa lakukan sehari – hari ?
Bagus ternyata mas mempunyai suatu keahlian yang tidak semua orang bisa ?
Terminasi
Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan mas setelah kita bincang – bincang saat ini ?
Evaluasi obyektif
Coba mas sebutkan kembali yang menyebabkan mas selalu merendahkan diri & tidak mau bicara ?
Rencana tindak lanjut
Baiklah, sekarang mas coba ingat kembali hal lain yang dapat menyebabkan mas tidak mau bicara dengan orang lain, kok mas selalu merendah & sebutkan kegiatan positif yang mas miliki.
Kontrak
Topik : mas ingin tahu tidak, bagaimana cara menilai kemampuan yang mas miliki yang dapat digunakan untuk kegiatan selanjutnya. Bagaimana kalu nanti kita bicara ?
Tempat : mas nanti minta kita bincang – bincang dimana ?
Bagaimana kalau kita di ruang makan mas ?
Waktu : jam berapa kita akan berbincang – bincang ? Bagaimana kalau jam 13.00 setelah makan siang aja mas?
Strategi pelaksanaan
Masalah : Harga Diri Rendah
Pertemuan : Ke – 2 (Kedua)
Proses Keperawatan
Kondisi klien
Pasien murung, sering tiduran di kamar, jarang bicara sama orang lain.
Diagnosa keperawatan
Isolasi sosial : MD berhubungan dengan HDR
Tujuan khusus
Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
Tindakan keperawatan
Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif.
Utamakan memberi pujian yang realistis.
Strategi Komunikasi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Orientasi
Salam terapeutik
Selamat pagi mas ? mas masih ingat dengan saya ?
Evaluasi / validasi
Bagaimana perasaan mas hari ini
Mas masih ingat dengan apa yang kita bicarakan kemasin ?
Kontrak
Kita kemarin sudah kontrak, bahwa hari ini kita akan berbincang – bincang tentang bagaimana mas dapat menilai kemampuan yang mas miliki ?
Mas ingin kita bincang – bincang berapa lama ?
Mau dimana mas tempatnya ? Oh ya kemarin kita sudah sepakat kita bincang – bincang di ruang makan selama 10 menit ya mas ? mas mau kan ?
Kerja
Selama mas disini kegiatan apa saja yang mas lakukan.
Sebelum mas disini, mas pernah punya ketrampilan ? bisa mas sebutkan ketrampilan yang pernah mas miliki tersebut ?
Mas pernah mendapatkan penghargaan tentang ketrampilan yang mas miliki ini ?
Mas bisa memanfaatkannya kembali ?
Terminasi
Evaluasi subyektif
Bagaimana perasaan mas saat ini setelah kita bincang – bincang banyak tentang kegiatan yang mas miliki tadi ?
Evaluasi obyektif
Coba mas sebutkan lagi kegiatan apa saja tadi yang mas miliki ?
Rencana tindak lanjut
Mas masih ingat dengan topik yang kita bicarakan tadi ? untuk pertemuan selanjutnya kita akan membicarakan tentang bagaimana merencanakan kagiatan sesuai dengan kemampuan yang mas miliki, mas mau kan ?
Kontrak
Untuk pertemuan besok kita akan berbincang – bincang tentang merencanakan kegiatan – kegiatan yang sesuai dengan kemampuan yang mas miliki, mas mau kita berbincang – bincang dimana ? Gimana kalau waktunya pagi jam 09.00 aja masnya setuju kan ?
Strategi pelaksanaan
Masalah : Harga Diri Rendah
Pertemuan : Ke – 3 (Ketiga)
Proses Keperawatan
Kondisi klien
Klien sudah mau berkumpul sama teman – temannya.
Diagnosa keperawatan
Isolasi sosial : MD berhubungan dengan HDR
Tujuan khusus
Pasien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Tindakan keperawatan
Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.
Kegiatan mandiri.
Kegiatan dengan bantuan sebagian.
Kegiatan yang membutuhkan bantuan total.
Tingkatkan kegiatan yang sesuai dengan toleransi kondisi klien.
Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
Strategi Komunikasi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Orientasi
Salam terapeutik
Selamat pagi mas, mas masih ingat nama saya mas ?
Evaluasi / validasi
Bagaimana mas apa masih ingat tentang pembicaraan kita kemarin mas?
Kontrak
Topik : seperti janji kita kemarin, kita akan membicarakan & membahas tentang rencana yang akan kita lakukan mas ?
Waktu : jam berapa mas, kita akan berbincang – bincang lagi mas ? berapa lama mas ?
Tempat : mau di tempat ini atu mau bincang – bincang dimana mas?
Kerja
Pada pertemuan pertama mas menyatakan bisa memotong rambut, lalu kemampuan tersebut dapat mas lakukan disini maupun setelah mas pulang dari sini, mas bisa mengekspresikan perasaan mas dengan momotong rambut temannya. Dengan memotong rambut perasaan mas agak terhibur. Dan nanti kalau mas sudah pulang mas bisa membuka salon dan mas bisa mempunyai penghasilan sendiri dari hasil memotong rambut.
Terminasi
Evaluasi subyektif
Bagaimana perasaan mas setelah kita bincang – bincang selama ini ?
Evaluasi obyektif
Coba mas sebutkan kemampuan apa yang bisa dilakukan mas ?
Rencana tindak lanjut
Bagaimana perasaan mas setelah kita membicarakan topik ini sekarang bandingkan perasaan mas sebelum dan sesudah berbincang – bincang.
Kontrak yang akan datang
Topik : untuk pertemuan selanjutnya kita membicarakan tentang kegiatan yang dapat dilakukan selama mas sakit, mas setuju tidak ?
Waktu : jam berapa mas kita nanti bisa berbincang – bincang lagi ? mau berapa lama ?
Tempat : dimana mas kita nanti mau berbincang – bincang ? mas mau ditempat mana ?
Strategi pelaksanaan
Masalah : Harga Diri Rendah
Pertemuan : Ke – 4 (Keempat)
Proses Keperawatan
Kondisi klien
Tampak tenang, sudah mengobrol sama temannya, walau kadang masih suka menyendiri.
Diagnosa keperawatan
Isolasi : MD berhubungan dengan HDR
Tujuan khusus
Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
Tindakan keperawatan
Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
Beri pujian atas keberhasilan klien.
Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.
B. Strategi Komunikasi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Orientasi
Salam terapeutik
Selamat pagi mas ? mas masih ingat dengan nama saya ?
Evaluasi / validasi
Bagaimana perasaan mas saat ini, apakah lebih baik dari hari kemarin.
Kontrak
Topik : bagaimana kalau kita kali ini membicarakan tentang kegiatan yang sesuai dengan kondisi & kemampuan mas yang dapat dilakukan saat ini ?
Tempat : mas mau dimana, apakah mau ditempat ini lagi?
Waktu : jam berapa mas bisa bincang – bincang lagi ? mas mau berapa lama ?
Kerja
Coba sekarang mas melakukan kegiatan yang telah kita bicarakan kemarin. Bagus kali ini mas dapat melaksanakannya kalau mas bisa berhasil. Mas bisa melaksanakannya dirumah, bagaimana mas setuju ?
Terminasi
Evaluasi subyektif
Coba mas ungkapkan perasaan mas saat ini bagaimana setelah kita bincang – bincang ?
Evaluasi obyektif
Coba mas sebutkan lagi kegiatan – kegiatan apa yang telah kita rencanakan tadi ?
Rencana tindak lanjut
Bagaimana perasaan mas setelah kita bincang – bincang kali ini coba nanti mas ingat – ingat lagi, tentang apa yang telah kita bicarakan tadi .
Kontrak
Topik : mas mau tahu tidak, bagaimana cara memanfaatkan sistem pendukung yang ada, kalau mau nanti kita bisa bincang – bincang.
Waktu : jam berapa mas mau bincang – bincang dengan saya ? mau berapa lama ?
Tempat : mas mau mau ditempat ini atau ruang tamu saja ?
Strategi pelaksanaan
Masalah : Harga Diri Rendah
Pertemuan : Ke – 5 (Kelima)
Proses Keperawatan
Kondisi klien
Klien sudah bersosialisasi dengan teman yang lain, tampak ceria, jika ketemu orang klien memberi senyum.
Diagnosa keperawatan
Isolasi sosial : MD berhubungan dengan HDR
Tujuan khusus
Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
Tindakan keperawatan
Beri tahu pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
Strategi Komunikasi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Orientasi
Salam terapeutik
Selamat pagi mas ? masih ingat dengan saya mas ?
Evaluasi / validasi
Bagaimana perasaan mas pagi ini ?
Apakah saran – saran yang saya berikan sudah mas kerjakan ?
Kontrak
Topik : seperti janji kita kemarin, kita akan berbincang – bincang tentang sistem pendukung yang ada dalam keluarga mas ?
Waktu : jam berapa mas kita akan bincang – bincang ?
Tempat : mas mau bincang – bincang dimana ?
Kerja
Coba ceritakan pada saya tentang saran – saran saya yang sudah mas lakukan.
Apakah keluarga mas sering menjenguk mas disini ?
Apa yang sering dibicarakan mas dengan keluarga mas ?
Terminasi
Evaluasi subyektif
Setelah berbincang – bincang beberapa pertemuan, bagaimana perasaan mas pagi ini ?
Evaluasi obyektif
Coba ceritakan pada saya bagaimana dengan saran yang mas lakukan ?
Rencana tindak lanjut
Coba mas ceritakan perasaan mas setelah sering dijenguk keluarga.
Kontrak yang akan datang
Topik : Bagus, mas sudah bisa melaksanakan saran saya sekarang sudah dapat berkumpul dengan keluarga, mas sudah bagus dan berhasil.

Rabu, 13 Juni 2012

Penyakit Seks Menular Ini Kebal Obat

 "Superbug" turunan penyakit gonorrhea atau raja singa menjadi penyakit yang  tidak bisa diobati. Strain atau jenis baru penyakit kencing nanah ini menyumbang hampir satu dari 10 kasus penyakit menular seksual di Eropa pada 2010. Menurut pejabat kesehatan setempat, jumlah ini meningkat dua kali lipat dibanding tingkat tahun lalu. 

Pejabat kesehatan memperingatkan penyakit yang tidak mempan diobati ini menyebar dengan cepat menjangkiti benua. Penyakit baru ini ditemukan di 17 negara Eropa pada 2010, lebih banyak tujuh kali dibanding tahun sebelumnya.   

Gonorrhea menjadi penyakit kedua yang paling umum dalam kategori Penyakit Menular Seksual (PMS) di Eropa pada 2010. Lebih dari 32.000 infeksi tercatat dalam data Pusat Pencegahan dan Pengontrol Penyakit Eropa (ECDC) yang berbasis di Stockholm. 

Chlamydia menjadi PMS yang paling sering dilaporkan dengan lebih dari 345.000 kasus. Tapi, ECDC menilai gonorrhea lebih mengancam saat ini.

Menurut Marc Sprenger dari ECDC, peningkatan kasus jenis baru superbug berarti meningkatkan resiko baru. Gonorrhea memiliki kemungkinan menjadi penyakit yang tidak bisa disembuhkan pada masa mendatang. 

Proporsi kasus gonorrhea yang kebal terhadap obat antibiotik yang bisa diberikan, cefixime, ini meningkat 4 persen pada 2009 menjadi 9 persen pada 2010. 

Menurut Reuters, ECDC melaporkan akan mengikuti peringatan dari organisasi kesehatan World Health Organisation (WHO). Bentuk gonorrhea yang tidak bisa diobati ini bisa menyebar ke penjuru dunia. 

Gonorrhea disebabkan infeksi bakteri. Penyakit menular ini bisa menyebabkan radang panggul, kehamilan ektopik, bayi lahir mati, infeksi mata parah pada bayi, dan mandul pada pria maupun perempuan. 

Penyakit ini menjadi PMS yang paling umum di dunia. Paling banyak menyerang Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sub-Sahara Afrika. (eh)